Minggu, 11 Januari 2015

Masyarakat Kota dan Masyarakat Desa





   
Saya lahir di Jakarta, tapi tumbuh ganteng di sebuah kabupaten kota di sebelah timur Jawa Barat, dibawah kaki gunung tertinggi diprovinsi tersebut, tempat yang dianugerahi emas paling dicari bangsa eropa 4 abad yang lalu(a.k.a tumbuhan dan tanaman tropis), Kabupaten Kuningan. Kalau ga tau, tau Perjanjian Linggarjati ga? Nah itu dilaksanakan di sana, di Kuningan. 14 tahun tinggal disana, saya banyak mendapatkan sesuatu yang sebelumnya saya tidak sadar kalau sesuatu itu sangat berharga, sampai pertengahan tahun lalu saya pindah ke tempat kelahiran saya, Jakarta.
      Apa yang saya dapatan di kuningan? Kepo kan? Makanya jangan baca hahaha...


     Jadi di kuningan yang notabenenya adalah daerah pedesaan, saya belajar tentang ramah tamah dan kekeluargaan yang baik, di jalan jalan umum contohnya kenal ga kenal senyum tetap nomer satu, rasanya adem banget, kalau ada yang lewat pasti bilang permisi atau paling tidak membungkukan badan. Semua itu ga saya temui di tempat saya berada sekarang, di Jakarta yang notabene nya adalah daerah perkotaan, jangankan senyum, orang salah tap kartu pas lagi get out di stasiun kereta aja sering dibiarin, malah digerutuin, pengen gue tabok beneran dah kalo lagi liat orang orang yang diem diem gerutu gitu.

   Nah saya jadi mikir lagi(padahal ada di sks bab 6) kenapa sih bisa terjadi perbedaan sikap masyarakat desa dan kota yang begitu signifikan? Kenapa coba? Kenapa hayo? Kenapa? Hayo kenapa? Coba kenapa?
JADI GINI KATANYA

     Masyarakat itu kan sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut, semuanya saling berinteraksi satu sama lain, dan saling bergantung satu sama lain. Sekelompok orang bisa dikatakan bermasyarakat apabila memenuhi syarat syarat berikut :
1.       Sejumlah manusia yang hidup bersama dalam waktu yang relatif lama
2.       Merupakan satu kesatuan
3.      Merupakan suatu sistem hidup bersama, yaitu hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan dimana setiap anggota masyarakat merasa dirinya masing-masing terikat dengan kelompoknya

      Adanya perbedaan antara masyarakat yang tinggal di kota dan yang tinggal didesa adalah karena faktor lingkungan, dan faktor pola interaksi satu sama lain.

A.      MASYARAKAT KOTA

    Masyarakat Kota, adalah masyarakat yang berada dilingkungan perkotaan, seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya dll, lingkungan kota biasanya cenderung bersuasana keras karena kebanyakan orang yang tinggal dan berada disini adalah untuk mencari pekerjaan yang layak, karena tinggal diperkotaan yang tingkat kebutuhannya sangaat tinggi, maka setiap orang berlomba untuk menjadi yang terbaik dan mendapatkan yang terbaik juga untuknya, keadaan inilah yang membentuk sikap masyarakat perkotaan menjadi individualis dan apatis, they’re only care about themselves.

     Selain itu kota kota besar adalah tempat yang paling dekat dengan jendela luar/negara lain, sehingga kehidupan di perkotaan mudah sekali terglobalisasi, budaya budaya negara luar seperti pesta, berpakaian, makanan/minuman perlahan tapi pasti mulai meraja lele dikehidupan perkotaan dan itu semua tidak bisa dibendung, itulah sebab kenapa masyarakat perkotaan menjadi bebas bahkan terkadang sampai bebas bablas karena terlau meniru niru budaya luar yang kurang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia yang beragama.

     Dibalik itu menjadi masyarakat kota juga memppunyai aspek positif, yaitu kemampuan bersaing yang baik, pengetahuan yang lebih luas, karena diperkotaan memiliki 5 unsur lingkungan yang menunjak kehidupan masyaraktnya yaitu :
  1. Wisma : unsure ini merupakan bagian ruang kota yang dipergunakan untuk tempat berlindung terhadap alam sekelilingnya, serta untuk melangsungkan kegiatan-kegiatan sosial dalam keluarga. Unsure wisma ini menghadapkan
  2. Karya : unsure ini merupakan syarat yang utama bagi eksistensi suatu kota, karena unsure ini merupakan jaminan bagi kehidupan bermasyarakat.
  3. Marga : unsure ini merupakan ruang perkotaan yang berfungsi untuk menyelenggarakan hubungan antara suatu tempat dengan tempat lainnya didalam kota, serta hubungan antara kota itu dengan kota lain atau daerah lainnya.
  4. Suka : unsure ini merupakan bagian dari ruang perkotaan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan fasilitas hiburan, rekreasi, pertamanan, kebudayaan dan kesenian
  5. Penyempurna : unsure ini merupakan bagian yang penting bagi suatu kota, tetapi belum secara tepat tercakup ke dalam keempat unsur termasuk fasilitas pendidikan dan kesehatan, fasiltias keagamaan, perkuburan kota dan jaringan utilitas kota.

B.      MASYARAKAT DESA

Berbeda dengan Masyarakat Desa, masyarakat yang tinggal di daerah biasa, belum terperngaruh oleh kehidupan luar. Disini biasanya masyarakat hidup saling membant satu sama lain, masyarakat saling menjaga satu sama lain, tidak ada persaingan persaingan karena masyarakat yang hidup didesa tumbuh bersama sama alam, semua yang mereka inginkan butuhkan ada dialam, dan alam adalah milik bersama, itulah yang membuat masyarakat desa tidak individualis, mereka pekaterhadap sesama.

Keadaan masyarakat pedesaan yang belum terpengaruh budaya luar menyebabkan mereka memegang teguh adat istiadat yang dijunjung disana sejak jaman nenek moyang mereka turun temurun, atau paling tidak mereka masih taat terhadap agama yang mereka anut, hal ini menyebabkan masyarakat desa lebih bersikap sopan, ramah, dan tidak bebas dalam berkelakuan.


B. HUBUNGAN DESA DAN KOTA



1.  Hubungan antara Desa dan kota

                Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komonitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat. Bersifat ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan bahan pangan seperti beras sayur mayur , daging dan ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi bagi jenis jenis pekerjaan tertentu dikota. Misalnya saja buruh bangunan dalam proyek proyek perumahan. Proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja pekerja musiman. Pada saat musim tanam mereka, sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan dibidang pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.

                “Interface”, dapat diartikan adanya kawasan perkotaan yang tumpang-tindih dengan kawasan perdesaan, nampaknya persoalan tersebut sederhana, bukankah telah ada alat transportasi, pelayanan kesehatan, fasilitas pendidikan, pasar, dan rumah makan dan lain sebagainya, yang mempertemukan kebutuhan serta sifat kedesaan dan kekotaan.

Hubungan kota-desa cenderung terjadi secara alami yaitu yang kuat akan menang, karena itu dalam hubungan desa-kota, makin besar suatu kota makin berpengaruh dan makin menentukan kehidupan perdesaan.

Secara teoristik, kota merubah atau paling mempengaruhi desa melalui beberapa caar, seperti: (i) Ekspansi kota ke desa, atau boleh dibilang perluasan kawasan perkotaan dengan merubah atau mengambil kawasan perdesaan. Ini terjadi di semua kawasan perkotaan dengan besaran dan kecepatan yang beraneka ragam; (ii) Invasi kota , pembangunan kota baru seperti misalnya Batam dan banyak kota baru sekitar Jakarta merubah perdesaan menjadi perkotaan. Sifat kedesaan lenyap atau hilang dan sepenuhnya diganti dengan perkotaan; (iii) Penetrasi kota ke desa, masuknya produk, prilaku dan nilai kekotaan ke desa. Proses ini yang sesungguhnya banyak terjadi; (iv) ko-operasi kota-desa, pada umumnya berupa pengangkatan produk yang bersifat kedesaan ke kota. Dari keempat hubungan desa-kota tersebut kesemuanya diprakarsai pihak dan orang kota. Proses sebaliknya hampir tidak pernah terjadi, oleh karena itulah berbagai permasalahan dan gagasan yang dikembangkan pada umumnya dikaitkan dalam kehidupan dunia yang memang akan mengkota.

Salah satu bentuk hubungan antara kota dan desa adalah :

a). Urbanisasi dan Urbanisme

Dengan adanya hubungan Masyarakat Desa dan Kota  yang saling ketergantungan dan saling membutuhkan tersebut maka timbulah masalah baru yakni ; Urbanisasi yaitu suatu proses berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dapat pula dikatakan bahwa urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat perkotaan. (soekanto,1969:123 ).

b)    Sebab-sebab Urbanisasi
1.)   Faktor-faktor yang mendorong penduduk desa untuk meninggalkan daerah kediamannya (Push factors)
2.)   Faktor-faktor yang ada dikota yang menarik penduduk desa untuk pindah dan menetap dikota (pull factors)

Hal – hal yang termasuk push factor antara lain :
a.    Bertambahnya penduduk sehingga tidak seimbang dengan persediaan lahan pertanian,
b.    Terdesaknya kerajinan rumah di desa oleh produk industri modern.
c.    Penduduk desa, terutama kaum muda, merasa tertekan oleh oleh adat istiadat yang ketat sehingga mengakibatkan suatu cara hidup yang monoton.
d.    Didesa tidak banyak kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan.
e.    Kegagalan panen yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti banjir, serangan hama, kemarau panjang, dsb. Sehingga memaksa penduduk desa untuk mencari penghidupan lain dikota.

Hal – hal yang termasuk pull factor antara lain :
a.    Penduduk desa kebanyakan beranggapan bahwa dikota  banyak pekerjaan dan lebih mudah untuk mendapatkan penghasilan
b.    Dikota lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan usaha kerajinan rumah menjadi industri kerajinan.
c.    Pendidikan terutama pendidikan lanjutan, lebih banyak dikota dan lebih mudah didapat.
d.    Kota dianggap mempunyai tingkat kebudayaan yang lebih tinggi dan merupakan tempat pergaulan dengan segala macam kultur manusianya.
e.    Kota memberi kesempatan untuk menghindarkan diri dari kontrol sosial yang ketat atau untuk mengangkat diri dari posisi sosial yang rendah ( Soekanti, 1969 : 124-125 ).
(taufikhidayat21)

0 komentar:

Posting Komentar